Tradisi Rebo Pungkasan
Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan adalah upacara
tradisional di Wonokromo, Pleret, Bantul. Rebo Pungkasan diadakan setahun
sekali pada hari Selasa (malam Rabu) pada minggu terakhir bulan sapar. Upacara
ini dilaksanakan pada hari terakhir dalam bulan sapar karena hari tersebut
merupakan pertemuan antara Sri Sultan HB I dengan Kyai Abdullah Faqih.
![]() |
| Upacara Adat Rebo Pungkasan di Balai Desa Wonokromo |
Upacara ini diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta untuk menghormati kyai pertama di Wonokromo yang konon dahulu dapat menyembuhkan segala penyakit dan memberikan berkah untuk tujuan-tujuan tertentu.
Pada Rebo Pungkasan tahun 2018, saya berkesempatan untuk
bertemu dengan salah satu abdi dalem yang ada di sana.
Kemudian saya mencoba bertanya tentang seluk beluk terjadinya
Rebo Pungkasan.
Menurut cerita abdi dalem, dahulu
tempuran merupakan tempat bertemunya Sungai Gajah Wong dengan Sungai Opak.
Tempuran tersebut terletak kurang lebih dua kilometer dari timur Balai Desa
Wonokromo. Di sekitar tempuran tersebut terdapat beberapa tempat atau
peninggalan yang sering dihubungkan dengan legenda yang pernah terjadi di
tempat tersebut. Kondisi tempuran itu sendiri sudah berubah karena tempat
tersebut sudah dibangun bendungan sehingga mengubah upacara tradisional
yang dilakukan masyarakat. Tradisi ini bermula dari adanya kebiasaan Sultan
Agung yang sering mengunjungi Pleret dan melakukan kegiatan “menepi” atau
semedi di tempuran Wonokromo. Ketika bersemedi, Sultan Agung mengambil tempat
di salah satu tepi tempuran atau sungai. Kebiasaan yang dilakukan oleh Sultan
Agung tersebut memang sesuai dengan kebiasaan raja-raja Jawa dan masyarakat
Jawa pada umumnya.
![]() |
| Proses ngarak lemper raksasa dari Masjid Wonokromo |
Pada puncak acara Rebo
Pungkasan diakhiri dengan “ngarak
lemper” atau membawa lemper besar yang berukuran 2,5 meter dengan
diameter 0,5 meter dimulai dari Masjid Wonokromo sampai Balai Desa Wonokromo
sejauh 2 km. Selain lemper terdapat pula gunungan untuk diperebutkan oleh
masyarakat. diawali dengan barisan prajurit Keraton Yogyakarta, kemudian lemper
raksasa tiruan yang diusung oleh 4 orang, diikuti lemper raksasa asli, serta di
barisan belakang terdapat beberapa kelompok kesenian setempat.
Harapan dari abdi dalem dari prosesi ngarak lemper dan pasar malam tersebut semoga memberikan wadah yang positif bagi masyarakat yang ikut serta meramaikan acara. Kemudian di samping itu, masyarakat Wonokromo yang saat ini merupakan masyarakat yang agamis, perlu dilakukan upaya untuk meminimalisir hal-hal yang negatif dari tradisi tersebut dan digantikan dengan hal-hal yang positif, baik dari segi etika, maupun dari aspek norma agama.


Terimakasih informasinyaa, sangat membantu❤
BalasHapusTengkyu info nya kakakk
BalasHapusup sek tahun iki lur
BalasHapusSangat informatif, terimakasih
BalasHapus